Pada 8 Juli 1995, tepatnya di desa Kalitengah, Gombong , Jawa Tengah aku dilahirkan.
Dari sebuah keluarga yang sederhana yang sempat merantau ke jakarta sebelum akhirnya kembali hanya untuk melahirkanku. Dan nama Sri Kartika Aji menjadi nama yang di patenkan untukku, sebuah nama pemberian dari kakekku yang lebih tepatnya ayah dari ayahku. Nama yang terdengar aneh memang untuk seorang anak laki-laki.
Saat usiaku masih kecil aku ikut dengan orang tuaku merantau di Jakarta. Namun, saat usiaku sudah menginjak 5 tahun aku di tinggal bersama nenekku, orang tua dari ibuku. Niatnya hanya untuk menyekolahkan aku di tempat kelahiranku dan orang tuaku hanya pulang 1 tahun sekali, yaitu saat lebaran tiba. Itulah waktu yang paling aku tunggu, meski mereka hanya pulang 1 minggu. Saat mereka hendak kembali ke Jakarta aku selalu di bawa pergi, entah kemanapun itu, yang penting bagi mereka agar aku tidak menangis saat harus berpisah kembali dengan mereka dan menunggu 1 tahun lagi. Namun, saat aku tanya "Ibu mana?? Bapak mana??" mereka pasti menjawab "Ibu sama Bapak udah ke Jakarta cari duit buat sekolah Aji" dan setiap malam setelah perginya mereka ke Jakarta aku selalu menangis dan meminta manyusul ke Jakarta.
Saat usiaku 6 tahun aku memulai langkah pendidikan formalku setelah aku lulus dari Taman Kanak-kanak. Kemampuanku mungkin boleh di bilang tidak buruk. Saat duduk di kelas 1, aku mendapat juara 3 di kelas dan semua semakin baik saat aku mendapat juara 1 di kelas 2. Namun, semua berbeda saat aku duduk di bangku kelas 3 SD, aku justru turun peringkat hingga peringkat ke 7 di semester pertama.
Saat libur semester 1 saat aku kelas 3 adalah saat yang paling menggembirakan, dimana liburanku diisi bersama orang tuaku yang sedang libur lebaran. Dan saat itu aku berkata "Bu aku mau pindah ke Jakarta dong, aku mau ikut sama ibu". Dan akhirnya aku diperbolehkan ikut ke Jakarta bersama orang tuaku.
Sebenarnya orang tuaku tidak tinggal di Jakarta, malainkan Tangerang yang sekarang sudah menjadi Tangerang Selatan. Awalnya aku mendaftar di SDN Cireundeu 2, namun karena kapasitas yang tidak memungkinkan aku akhirnya masuk di SDN Cireundeu 1 yang hanya berjarak beberapa langkah dari SDN Cireundeu 2.
Hari pertamaku di sekolah baruku aku cukup terkejut mendengar tawa dari anak-anak saat aku menyebutkan namaku. Aku lupa bahwa ini kota, bukan lagi desa. Nama Sri Kartika selalu identik dengan perempuan, beruntung aku masih punya nama Aji di belakang. Saat aku datang semua anak sedang sibuk mengerjakan tugas matematika. Dan saat aku sudah mendapat satu tempat yang menjadi tempat dudukku aku langsung ikut mengerjakan tugas yang sama. Namun, justru aku yang selesai pertama meski hanya mendapat nilai 9 karena 1 dari 10 jawabanku salah. Tidak memerlukan waktu lama untukku beradaptasi di habitat yang baru di kota meski dengan bahasa yang sangat "medog". Terbukti dengan mudahnya aku mendapat beberapa sahabat baru. Mereka adalah anak-anak yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggalku. Mereka bernama Afwan Riadi, Zazhil Adhafi, dan Irwan Permana. Setiap hari kami berangkat bersama meski kadang Zazhil diantar oleh ayahnya.
Mungkin memang tahun ini bukan tahun yang baik untuk nilai-nilaiku. ini terbukti dengan tidak adanya aku dalam 10 besar peringkat di kelas pada semester 2 setelah pada semester 1 aku berada pada peringkat 7. Meski demikian aku tetap naik ke kelas 4.
Awal tahun akan selalu menjadi suatu hal yang paling aku benci. Ini karena aku akan mendapat beberapa teman baru yang belum aku kenal di kelas 3 meski sering meliaht karena masih 1 sekolah. Namun, bukan itu masalah intinya. Yang paling membuat aku gemetar adalah saat aku harus maju dan memperkenalkan namaku. Saat itulah semua aanak akan tertawa meski guru telah mencoba mendiamkan anak yang terpingkal-pingkal mendengar nama yang unik.
Di akhir tahun aku mulai bisa mengembalikan prestasiku yang sempat redup dengan menjadi peringkat 4 dan naik ke kelas 5.
Seperti biasa saat kelas diundi aku akan mendapat beberapa teman baru yang mungkin belum aku kenal. Mungkin banyak yang sudah tau bahwa aku mempunyai sebuah nama yang aneh. Mereka bahkan sudah bersorak saat aku melangkahkan kaki ke depan kelas. Dan teriakan mereka pecah saat aku menyebutkan namaku. Jujur setibanya aku dirumah aku langsung menangis tersedu-sedu karena belum pernah ada yang menertawakanku sampai satu kelas seperti itu. Namun, aku bersyukur masih mempunyai 4 sahabat yang selalu setia dan tidak pernah mempermasalahkan namaku yang aneh.
Aku lulus dari SDN Cireundeu 1 dengan nilai yang cukup memuaskan. Namun, untuk mendapatkan sekolah negeri di DKI Jakarta aku harus mengikuti TAU atau Tes Akademik Umum. aku tes di SMPN 12 Jakarta. Saat itu aku mendapat nilai 6,5869. Aku mencoba mengikuti Zazhil untuk mendaftar di SMPN 226 Jakarta, SMPN 86 Jakarta, dan SMPN 87 Jakarta. Namun, sialnya tak ada hasil apapun yang ku dapat. Disisi lain Zazhil mendapat sekolah SMPN 226 Jakarta.
Selagi menunggu waktu gelombang kedua aku mengikuti tes di SMPN 1 Ciputat (sekarang SMPN 2 Tangerang Selatan) untuk berjaga-jaga apabila harus gagal di gelombang kedua aku tetap mendapat sekolah negeri. Aku, Afwan, dan Irwan yang saat itu belum dapat sekolah negeri manapun kini mendapat kesempatan di SMPN 1 Ciputat.
Tiba waktunya aku mencoba gelombang 2. dan sekolah yang aku coba adalah SMPN 12 Jakarta yang menjadi tempaku TAU saat itu, ditambah SMPN 225 Jakarta dan SMPN 240 Jakarta. Dan akhirnya SMPN 12 Jakarta yang bertempat di Jalan Wijaya 9 nomer 50 Kebayoran Baru mau menerimaku.
Seperti biasa awal tahun pelajaran menjadi bayangan buruk bagiku. Setiap siswa baru yang tidak saling kenal harus memperkenalkan dirinya di depan kelas sesuai perintah kaka kelas. Dan sudah ku duga, pasti semua siswa akan langsung terpingkal mendengar perkenalanku. Seketika aku tertunduk. Karena tak satupun teman yang aku kenal aku hanya bisa diam dan malu karena terus saja mereka menyerukan "Sri....Sri....Sri....". Yang bisa ku lakukan hanya tersenyum dengan penuh keterpaksaan.
Namun di balik kisah sedih di awal tahun terselip kisah indah. Kisah cinta pertamaku pada seorang teman di kelasku. Namun aku terikat janji. Sebelum aku lulu SD, aku pernah berkata tidak akan berpacaran dengan teman yang masih 1 sekolah denganku. Aku terbayang dengan janjiku di tengah wajah yang selalu terbayang setiap hariku. Namun aku terus berusaha memegang teguh ucapanku itu. Dan setelah lama dekat dengannya aku terpikir dengan satu cara untuk menepati janjiku, yaitu dengan cara...
to be continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar