Cerita Perjalanan Java Bali Overland Tour
Perjalanan hari pertama dimulai hari Jum’at. Saya sampai di sekolah pada pukul 6 lewat 15 menit. Tak seperti biasanya, saya lihat sudah banyak tas-tas besar yang duduk manis di atas meja. Padahal, kalau hari biasa kelas baru akan penuh pada saat bel berbunyi, itupun saat guru sudah masuk terlebih dahulu.
Pukul 7 kurang, semua anak sudah berkumpul di bis setelah meletakkan travel bag mereka di bagasi. Semua tampak bersemangat saat bis mulai bergerak, meskipun sedikit molor dari jadwal yang seharusnya pada pukul 7 pagi bis harus sudah berjalan.
Semua anak mulai diam saat Rasya, seorang anak jurusan travel mulai unjuk gigi, menujukkan keahliannya ber- Guidding.
Saat hari mulai siang, keceriaan tak terlalu nampak dari para siswa. Ada yang tidur, mendengarkan musik, bahkan hanya berfoto-foto, berbeda dengan saat awal perjalanan. Di sisi lain, tak sedikit juga teman-tamanku yang justru muntah-muntah karena tidak terbiasa melakukan perjalanan jauh ditengah panasnya terik matahari, ditambah lagi jalan yang berkelok-kelok saat memasuki wilayah Jawa Barat.
Jawa Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kotanya berada di Kota Bandung. Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan UU No.11 Tahun 1950, tentang Pembentukan Provinsi Jawa Barat. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Bagian barat laut provinsi Jawa Barat berbatasan langsung dengan Daerah Khusus Ibukota Jakarta, ibu kota negara Indonesia. Pada tahun 2000, Provinsi Jawa Barat dimekarkan dengan berdirinya Provinsi Banten, yang berada di bagian barat. Saat ini terdapat wacana untuk mengubah nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Pasundan, dengan memperhatikan aspek historis wilayah ini.
Kepenatan sedikit terobati saat rombongan berhenti di salah satu restoran untuk makan siang sekaligus sholat Jumat dan menjamaknya dengan Ashar.
Setelah semua selesai makan, perjalanan dilanjutkan kembali. Semakin jauh, semakin banyak pula anak yang pusing-pusing dan muntah-muntah. Disisi lain, anak laki-laki yang semua duduk di belakang mayoritas tidur, yang terlihat terbangun hanyalah Arkan dan Alfredo, termasuk saya sendiri.
Tak terasa perjalanan sudah sampai di Kebumen, tampat dimana saya dilahirkan. Tak berselang lama bis pun berhenti untuk makan malam sekaligus sholat Magrib yang dijamak dengan sholat Isya.
Kabupaten Kebumen, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Kebumen. Secara geografis Kabupaten Kebumen terletak pada 7°27' - 7°50' Lintang Selatan dan 109°22' - 109°50' Bujur Timur. Bagian selatan Kabupaten Kebumen merupakan dataran rendah, sedang pada bagian utara berupa pegunungan, yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Serayu. Di selatan daerah Gombong, terdapat rangkaian pegunungan kapur, yang membujur hingga pantai selatan. Daerah ini terdapat sejumlah gua dengan stalagtit dan stalagmit.
Perjalanan dilanjutkan menuju penginapan di daerah Yogyakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta atau seringkali disingkat DIY adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah di sebelah utara. Secara geografis Yogyakarta terletak di pulau Jawa bagian Tengah. Daerah tersebut terkena bencana gempa pada tanggal 27 Mei 2006 yang mengakibatkan 1,2 juta orang tidak memiliki rumah.
Provinsi DI. Yogyakarta memiliki lembaga pengawasan pelayanan umum bernama Ombudsman Daerah Yogyakarta yang dibentuk dengan Keputusan Gubernur DIY. Sri Sultan HB X pada tahun 2004.
Sebelum sampai di penginapan, kami diberitahu nomer kamar dan kelompok dalam kamar. Seperti yang sudah pernah disepakati, saya sekamar dengan Wahlul alias Amri, Sapardi alias Jawa, dan Arkan yang katanya punya kepanjangan Arkan Mars.
Sesampainya di hotel yang bernama Hotel Chandra Kirana yang disingkat sama seperti sekolah kita yaitu CK, kami langsung mengambil kunci dan lekas berberes. Karena besok kita tidak menginap di penginapan alias menginap di bis, semua peralatan yang diperlukan ke Bromo kami siapkan di tas, sehingga tidak buka tutup bagasi. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, namun hanya Wahlul yang sudah tidur. Mungkin karena sebelum sampai di hotel kami sudah tidur, jadi susah tidur lagi, alhasil kita jadi begadang. Barulah pukul 1 pagi kita tidur semua.
Keesokan harinya alarm saya berbunyi pukul 4.30 untuk membangunkan saya yang piket di hari ke-2. Langsung saja saya membangunkan 3 taman saya, namun percuma, begitu mata mereka terbuka langsung tertutup lagi. Dari pada membuang-buang waktu saya langsung ambil wudhu dan sholat Subuh.
Setelah Sholat Subuh, saya menelpon Ema yang meminta dibangunkan setengah 5, tapi ternyata Ema sudah bangun.
Sebelum berangkat kami semua sarapan dulu di hotel. Tak seperti biasanya saya sangat tidak nafsu makan, makanan sayapun tersisa di piring.
Kami Check Out dari hotel langsung menuju ke Kraton Yogyakarta. Di Kraton kami ditemani Guide lokal. Banyak yang dijelaskan oleh Guide tersebut, namun saya lebih banyak berfoto dari pada mendengarkan.
Puas berkeliling di Kraton, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah hotel berbintang 4 untuk melakukan Table Maner. Sebelum memasuki hotel kami semua merapikan pakaian agar lebih pantas di panggil sebagai anak pariwisata. Setelah semua rapi, kami masuk ke dalam hotel. Acara Table Manner dimulai dengan berkeliling hotel untuk menunjukkan bagaimana hotel yang sesungguhnya. Hal ini sangat berguna, khususnya bagi jurusan perhotelan. Tidak hanya itu, kami anak perhotelan juga diajarkan bagaimana cara merapikan kasur dengan cepat dan tepat yang belum kami pelajari di sekolah, karena kami baru sampai di cara membersihkan kamar.
Setelah itu kami juga diajarkan bagaimana cara membuat makanan yang nantinya akan kita gunakan untuk acara Table Manner. Cara Table Manner pun dimulai. Sebagai permulaan kami diajarkan menata meja untuk jamuan Internasional. Kemudian dilanjutkan dengan cara jamuan makan internasional.
Banyak hal lucu yang terjadi, ada yang saat memotong daging namun daging tersebut lompat keluar piring. Saya pun tak luput dari hal lucu, saat hendak mengambil pepaya yang ada di bawah es krim, pepaya tersebut selalu bergeser sehingga memaksa saya menggunakan tangan yang sebenarnya dilarang. Setelah acara Table Manner selesai kami berfoto bersama dan kemudian pergi meninggalkan hotel Jayakarta untuk menuju ke Candi Prambanan.
Di candi Prambanan kami singgah tidak terlalu lama, hanya berfoto dan berkeliling kemudian menuju kembali ke bis. Setalah puas berkeliling dan berfoto di Candi Prambanan kami malanjutkan perjalanan panjang kami melewati Solo, Sragen, Ngawi dan Nganjuk menuju Probolinggo. Namun di Ngawi kami singgah sejenak untuk makan serta mempersiapkan segala keperluan mendaki Bromo.
Saat malam tiba kami beristirahat di bis yang tetap berjalan dan terbangun keesokan harinya pada dini hari. Begitu terbangun kami langsung bersiap-siap terutama dari segi pakaian hangat agar di atas kami tidak kedinginan. Setalah siap dengan semua perlengkapan kami berganti mobil yang lebih kecil agar lebih mudah menanjak. Begitu sampai di desa setempat saya baru sadar kalau senter saya tertinggal, jadi saya tidak membawa penerang apapun di perjalanan, hanya mengandalkan senter dari beberapa teman yang membawa senter sendiri. Namun sayang, larangan naik ke pucak Gunung yang masih aktif tersebut ternyata masih diberlakukan, alhasil kami tidak dapat naik ke puncak Gunung Bromo. Meskipun demikian kami tetap dapat berfoto-foto ria dari dataran tinggi yang ada di seberang lautan pasir.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya matahari mulai memancarkan senyum, namun perhatian sedikit beralih kearah Gunung Bromo setalah terihat gumpalan asap bercampur pasir yang kalau tidak salah disebut “wedus gembel” keluar dari kawah. Kami disarankan untuk memakai kembali masker yang sempat dilepas saat suhu mulai naik, hal ini karena gumpalan asap tersebut mambawa pasir yang dapat berbahaya bagi pernapasan, namun banyak siswa yang tidak menghiraukannya dan tetap saja berfoto dengan memanfaatkan gumpalan asap yang tebal sebagai background.
Setalah puas menikmati keindahan matahari terbit kami kembali ke bis yang di parkir di depan restoran Bromo Asri, namun untuk kembali ke bis kami harus menaiki mobil yang lebih kecil yang saat berangkat kami naiki.
Sesampainya di restoran Bromo Asri tempat dimana bis kami di parkir, kami mandi pagi di kamar mandi restoran yang sepertinya sudah di sewa untuk rombongan kami seperti yang saya lihat di depan kamar mandi. Usai mandi seluruh rombongan makan masih di tempat yang sama, yaitu Bromo Asri. Setelah semua selesai makan semua anak jurusan perhotelan termasuk saya menuju ke belakang restoran untuk mengocok arisan dimana saat itu nama Rosdiana yang keluar dari gelas air mineral.
Perjalanan dilanjutkan menuju ke Pasir Putih dengan melewati Panarukan dan Situbondo. Saat waktu makan siang tiba, kami berhenti di salah satu restoran di daerah Pasir Putih. Restoran Pasir Putih berada persis di sebelah Pantai Pasir Putih. Jadi saat makan kami bisa langsung menikmati keindahan pantai. Namun sayang, yang saya lihat restoran tersebut membuang sisa makan ke pinggir laut, sehingga banyak sampah makanan yang mengambang di pinggiran pantai. Meskipun demikian makan di temani keindahan pantai Pasir Putih tetap menjadi sesuatu yang menyenangkan. Seusai makan saya menuju mushola restoran untuk menjalankan ibadah sholat Dzuhur yang di jamak dengan Ashar. Disisi lain, banyak anak-anak yang mengisi waktu istirahat dengan mengisi batrai telepon genggam mereka.
Perjalanan dilanjutkan dengan tujuan menyebrangi selat Bali dengan melalui Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya, bahwa saat di kapal akan banyak anak yang berenang di permukaan air sekitar kapal yang mengejar uang recehan yang dilempar oleh para penyebrang. Saya beserta semua anak mencoba mempraktekkannya. Ternyata benar, saat saya lemparkan dua buah koin Rp 100; mereka langsung berenang untuk memperebutkan uang yang menurut kami sangat kecil jumlahnya. Sungguh kasihan anak- anak yang mencari uang dengan cara seperti itu, padahal cuaca di pelabuhan sedang gerimis yang semakin lama semakin deras. Keahlian berenang mereka yang cepat seharusnya diarahkan menjadi lebih bermanfaat dengan mengikuti lomba-lomba berenang, sehingga mereka dapat menyalurkan bakat sekaligus memperoleh uang dengan cara yang lebih layak dengan usia mereka.
Begitu kapal menepi kami langsung di arahkan untuk masuk kembali ke dalam bis karena bis akan langsung keluar dari tempat parkir kapal.
Perjalanan dilanjutkan dengan tujuan Wisma Bima Dua Bali yang akan menjadi tempat kami menginap selama berada di Bali. Kami sampai di Bali dengan sambutan yang meriah dari air hujan yang turun deras membasahi kaca-kaca bis. Di perjalanan kami singgah di Rumah Makan Madinah, rumah makan penyedia makanan yang 100% halal.
Saat kami sampai disana ada yang mengatakan bahwa anak laki-laki sholat magrib terlebih dahulu karena, namun saat saya sudah mengambil wudhu justru banyak anak laki-laki yang sudah makan, namun saat saya Tanya mereka semua manjawab “sholatnya ntar aja abis makan”. Mendengar jawaban itu saya tetap masuk ke musholah bersama dengan Khairul Arifin, Abid Gustiawan, dan Angga yang sejak tadi menunggu datangnya waktu Magrib. Saat waktu magrib tiba, anak-anak yang sudah selesai makan langsung menuju ke musholah. Namun, yang dating mayoritas anak perempuan. Selesai sholat, saya, Ipin, Angga, dan Abid yang tadi belum makan langsung keluar mushola untuk mengambil makanan. Namun, bukan makan yang kami dapat justru caci-maki dari guru-guru karena kami dianggap telat makan dan tidak mengikuti jadwal sehingga makanan yang dipesan untuk rombongan sudah dirapikan. Tentu hal itu membuat kami tidak terima. Menurut kami itu bukan kesalahan kami, karena ada yang mengatakan anak laki-laki harus sholat terlebih dahulu. Namun karena anak laki-laki rata-rata malas sehingga mereka lebih memilih ikut makan bersama dengan anak perempuan. Mungkin itulah yang membuat perkiraan guru-guru bahwa semua anak sudah makan. Karena makan sambil dimarahi karena hal yang sebenarnya bukan kesalahan kami membuat kami tidak nafsu makan, akhirnya kami kembali ke bis dan menyisakan makanan yang tadi sempat diberikan kepada kami.
Perjalanan dilanjutkan dengan suasana ketegangan di bagian belakang bis karena saya dan tiga rekan saya tadi masih tidak mau bicara.
Sesampainya di Wisma Bima Dua Bali saya langsung menuju kamar Lavender 1 yang akan menjadi kamar peristirahatan saya selama di Bali. Di kamar Lavender 1 saya tidak hanya sendiri. Saya sekamar dengan Arkan, Wahlul, Aldilah, Alfredo, dan Khairul.
Karena tadi di retoran Madinah tidak enak makan, sya mengajak teman-teman saya untuk keluar wisma mencari makanan. Tak perlu jauh berjalan kami langsung menemukan makanan di depan wisma. Saya memesan ayam goreng dengan nasi dan lalapan, tak lupa di tambah sambal meskipun saya tidak suka. Dengan Rp 11.000; perut terisi dengan kenyang. Terlalu mahal mungkin bagi anak usia kami jika kami berada di Jakarta.
Puas makan kami kembali ke kamar untuk menyaksikan pertandingan sepak bola antara Manchester United atau MU melawan Chelsea yang sesampainya di kamar hanya tinggal menunggu peluit tanda pertandingan berakhir. Untuk mengisi malam anak-anak dari kamar lain mengajak bermain kartu di depan kamar kami. Awalnya saya hanya melihat-lihat sembari mengganggu Arkan dan Alfredo yang sudah tidur ditengah dengkuran Wahlul yang tidur disebelahnya. Namun, saat ada yang keluar saya jadi ikut-ikutan main. Anehnya saya justru menang di permainan pertama meski harus kalah di permainan selanjutnya. Setelah sudah cukup malam kami masuk ke kamar dan tidur. Saya lebih memilih tidur di bawah daripada harus tendang-tendangan karena sempit.
Pagi harinya seperti biasa saya bangun paling pagi. Meskipun sudah bangun saya masih tetap tidur-tiduran. Bu Ayu mengetuk pintu untuk membangunkan anak-anak di kamar saya yang memang baru saya saja yang bangun. Langsung saja saya bangunkan semua anak sesuai perintah Bu Ayu. Karena saya bangun pertama, maka saya juga yang mandi pertama agar nanti tidak terburu-buru. Setelah semua selesai mandi dan sholat subuh, Aldilah justru masih bermimpi indah di atas kasur.
Setelah semua siap kami langsung diarahkan menuju tempat makan untuk sarapan dan kembali masuk ke bis untuk berkeliling Bali hari pertama dengan tujuan Kintamani Tour. Dengan dipandu oleh Local Tour Guide, kami dijelaskan tentang Bali dan kebudayaannya.
Provinsi Bali terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan.
Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.
Di pulau Bali terdapat 8 kabupaten, yaitu:
1. Kabupaten Negara
Dengan ibukotanya Jembrana. Jembrana berasal dari 2 kata, yaitu Jembar yang artinya luas dan warna artinya Tuhan. Kesenian tradisional masyarakat Jembrana adalah Makepung (karapan sapi).
2. Kabupaten Tabanan
Dengan Ibukotanya Tabanan. Tabanan berasal dari kata Tabanen dra. Tabanen adalah nama seorang raja. Istilah khusus dengan Tabanan lembung beras pulau Bali.
3. Kabupaten Baduro
Dengan ibukotanya Denpasar. Denpasar bersal dari kata Den yang artinya utara dan pasar yang artinya pasar. Jadi Denpasar adalh sebelah utara pasar.
4. Kabupaten Gianyar
Dengan ibukotanya Gianyar yang berasal dari 2 kata yaitu Griya yang artinya perumahan dan Anyar yang artinya tempat kesenian.
5. Kabupaten Kluntung
Ibukotanya Semapa Pura, berasal dari kata asmara.
6. Kabupaten Bangli
Dengan ibukotanya Bangli. Kabupaten Bangli merupakan satu-satunya kabupaten yang tidak memiliki wilayah laut.
7. Kabupaten Katan Asem
Dengan ibukotanya Amida Pura.
8. Kabupaten Bulalen
Dengan ibukotanya Singaraja.
Saya begitu senang mendengar penjelasan dari Tour Guide yang bernama Bli Robert karena selalu diberi bumbu-bumbu lelucon di setiap ceritanya. Tujuan pertama kami adalah pertunjukan Tari Barong. Sesampainya disana saya langsung mengambil tampat duduk di barisan ke tiga. Pantas saja tari Barong disukai oleh para wisatawan. Ternyata ceritanya yang menarik dan tarian yang “keren abis” membuat para penonton terhibur, tak terkecuali saya. Ditambah lagi dengan aksi lucu yang ditampilkan para pemainnya menambah keceriaan, meskipun bahasa yang digunakan hanya sedikit yang saya mengerti.Tari barong itu sendiri menggambarkan pertarungan antara kebajikan melawan kebatilan. Barong adalah binatang purbakala yang melambangkan kebajikan, dan Rangda adalah binatang purba yang mahadahsyat lambang dari kebatilan.
Cerita lengkap dari tari barong tersebut adalah sebagai berikut:
Pembukaan
Barong dan kera sedang berada di dalam hutan yang lebat. Kemudian munculah 3 orang bertopeng yang menggambarkan 3 orang yang sedang membuat tuak di tengah-tengah hutan,yang mana anaknya telah dimakan oleh harimau. Ketiga orang itu sangat marah dan menyerang harimau (Barong) itu dan dalam perkelahian itu salah seorang dari ketiga orang tersebut digigit oleh kera tadi.
Babak Pertama
Dua orang penari muncul dan mereka adalah pengikut-pengikut dari Rangda yang sedang mencari pengikut Dewi Kunti yang dalam perjalanan untuk menemui Patihnya.
Babak Kedua
Para pengikut Dewi Kunti tiba. Salah seorang dari pengikut Rangda berubah menjadi setan (semacam Rangda) dan memesukkan roh jahat kepada pengikut Dewi Kunti yang menyebabkan mereka bisa menjadi marah. Keduanya menemui Patih dan bersama-sama menghadap Dewi Kunti.
Babak Ketiga
Muncullah Dewi Kunti dan dan anaknya Sadewa dan Dewi Kunti telah berjanji kepada Rangda untuk menyerahkan Sadewa sebagai korban. Sebenarnya Dewi Kunti tidak sampai hati mengorbankan anaknya Sadewa kepada Rangda tetapi setan (semacam Rangda) memasukkan roh jahat kepadanyayang menyebabkan Dewi Kunti bisa menjadi marah dan tetap berniat mengorbankan anaknya kepada Patihnya kepada untuk membuang Sadewa kedalam hutan dan Patih inipun tidak luput dari kemasukkan rih jahat oleh setan itu sehingga sang Patih dengan tiada perasaan kemanusiaan, menggiring Sadewa kedalam hutan dan mengikatnya dimuka istana Sang Rangda.
Babak Keempat
Turunlah Dewa Siwa dan memberikan keabadian hidup kepada Sadewa dan kejadian itu tidak diketahui Rangda. Kemudian datanglah Rangda untuk mengoyak-ngoyak dan membunuh Sadewa namun tidak dapat dibunuhnya karena kekebalan yang dianugrahkan oleh Dewa Siwa. Rangda menyerah kepada Sadewa dan memohon untuk diselamatkan agar dengan demikian dia dapat masuk surga.
Babak Kelima
Kalika salah seorang pengikut Rangda menghadap kepada Sadewa untuk diselamatkan juga, tapi ditolak oleh Sadewa. Penolakan ini menimbulkan perkelahian dan Kalika merubah rupa menjadi Babi Hutan dan di dalam pertarungan antara Sadewa melawan Babi Hutan Sadewa mendapat kemenangan. Kemudian Kalika (Babi Hutan) ini berubah menjadi burung tetapi tetap dapat dikalahkan. Dan akhirnya Kalika (Burung) berubah rupa lagi menjadi Rangda oleh karena saktinya Rangda ini maka Sadewa tidak dapat membunuhnya dan akhirnya Sadewa berubah rupa menjadi Barong karena sama saktinya maka pertarungan antara Barong melawan Rangda ini tidak ada yang menang dan dengan demikian pertarungan dan perkelahian ini berlangsung abadi, kebajikan melawan kebatilan. Kemudian muncullah pengikut-pengikut Barong masing-masing dengan kerisnya yang hendak menolong Barong dalam pertarungan melawan Rangda. Mereka semua tidak berhasil melumpuhkan kesaktian Sang Rangda.
Puas menyaksikan Tari Barong yang menjadi salah satu budaya yang terkenal di Bali kami sedikit bergeser ke kanan, tepatnya toko souvenir yang letaknya hanya beberapa langkah dari tempat pementasan Tari Barong. Toko Souvenir yang pertama kami datangi ini bernama Galuh. Disini menjual berbagai souvenir khas Pulau Dewata, seperti pakaian, gantungan kunci, kerajinan tangan dan masih banyak lagi. Namun, saya lihat tak banyak anak yang membawa barang belanjaan termasuk saya. Saya hanya membeli 1 potong kaos untuk saya sendiri. Menurut saya banyak anak yang tidak tertarik untuk berbelanja disini karena barang yang ditawarkan cukup dapat menguras kantong. Kemungkinan lain adalah banyak anak yang berpendapat kita masih banyak waktu dan tempat lain yang akan dikunjungi sehingga mereka tidak mau kehabisan uang hanya karena ingin berbelanja di Galuh. Selain itu kami diberitau bahwa nanti kita akan mengunjungi Sukowati yang menjadi salah satu tempat berbelanja termurah di Indonesia.
Setelah cukup lama berkeliling di Galuh tanpa banyak membawa hasil, kami kembali ke dalam bis untuk sedikit bergeser ke salah satu toko oleh makanan khas Bali, yaitu Maha Dewi.
Sesampainya di Maha Dewi kami hanya di beri waktu satu jam untuk berbelanja oleh-oleh makanan khas Bali. Waktu itu tidak disia-siakan oleh para siswa yang sangat antusias untuk memborong oleh-oleh makanan khas Bali yang rata-rata belum pernah dicoba karena tidak dijual di Jakarta. Saya tidak banyak membeli oleh-oleh dalam bentuk makanan, karena makanan akan mudah habis. Saya hanya membeli kacang Bali dan Kopi Bali.
Puas berbelanja makanan di Maha Dewi, kami diajak menuju tempat pembuatan Perak dan Emas Bali. Namun sayang, yang bisa kami lihat hanya perak dan emas yang sudah jadi dan sudah dipajang untuk dijual. Anak-anak disana hanya berputar mengelilingi perak dan emas yang dipajang, kemudian keluar dan kembali masuk ke dalam bis. Tidak memerlukan waktu lama untuk membuat para rombongan bosan dengan apa yang dilihat didalam, karena kami hanya bisa mengagumi keindahannya tanpa bisa membelinya.
15 menit melihat-lihat perak dan emas khas Bali, rombongan yang sudah lapar langsung menuju Kintamani untuk makan siang.
Kintamani terletak di desa Panalokan, kecamatan Kintamani, kabupaten Bangli, jaraknya sekitar 52 km, ke arah timur laut. Objek- objek yang diperkenalkan berupa keindahan alam sebuah danau yang bernama Danau Baturyang merupakan danau terbesar di Bali dengan luas 6007,75 H.
Keindahan lain yang tak kalah menarik ditawarkan oleh Gunung Batur yang merupakan gunung berapi tertinggi ke-2 di Bali denga ketinggian 1717 m yang sekarang dikategorikan gunung berapi yang masih aktif. Kintamani memiliki arti tersendiri, yaitu “sehidup semati”. Pada abad ke-9 turis yang sudah mulai berdatangan (terutama China), karena diproklamirkan oleh raja Jaya Pangus. Gunung yang terletak di satu-satunya kabupaten yang tidak mempunyai wilayah laut ini terakhir meletus tanggal 13 Agustus 1998.
Perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini kami mengarah kea rah Sukowati. Sebuah pasar yang cukup terkenal dan konon menjadi salah satu tempat belanja termurah di Indonesia. Namun, sebelum sampai di Sukowati kami berhenti di salah satu toko souvenir kembali. Saya kurang tau apa namanya.
Disana kami diberi potongan harga 50% untuk setiap barang. Namun, harga yang memang sudah mahal membuat potongan harga seolah tidak berpengaruh apapun. Disana saya membelikan sepasang sandal untuk ibusaya, dan 2 potong baju masing-masing untuk ibu dan bapak saya.
Cukup lama kami berhenti disana sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan kembalike tujuan awal, yaitu pasar Sukowati. Kami diperingatkan untuk menawar lebih dari 50% karena sudah pasti kita akan ditawarkan harga yang selangit.
Begitu sampai di pasar Sukowati, wajah yang awalnya tampak bosan berubah menjadi semangat dengan melihat aneka pakaian yang bertengger hampir setiap toko. Tanpa membuang-buang waktu kami langsung turun.
Dengan menggunakan rumus belanja Sukowati yang diajarkan oleh Bli Robert, kami tidak perlu merogoh kantong terlalu dalam untuk mendapat barang yang kami sukai. Dan 2 kaos untuk saya ditambah 1 baju untuk adik saya yang berusia 4 tahun berhasil berpindah tangan hanya dengan Rp 45.000;.
Banyak cerita lucu yang terjadi di Sukowati. Diantaranya saat saya sedang mencari baju, tiba-tiba ada pedagang yang meneriakkan “goceng….goceng….”. Namun, saat ditanya “bener goceng Bli?”, pedagang itu menjawab “memang goceng berapa?”, kemudian alfredo jawab “goceng itu 5ribu Bli” pedagang terlihat bingung dan mengatakan “eh…. Bukan de…. Maksud saya 15ribu”. Kami yang awalnya ingin membeli jika benar Rp 5000; justru malah menjadi tertawa karena pedagang yang sok tau.
Ada juga kelucuan teman saya Wahlul yang diusir pedagang karena menawar Rp 10000; dan rosdiana yang terpaksa membeli pensil karena tidak sengaja menjatuhkan padahal pensil tersebut tidak cacat apapun.
Setelah lama berkeliling Sukowati, kami menuju ke Pertunjukkan Tari Kecak. Kecak adalah pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan pada tahun 1930-an dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan "cak" dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun demikian, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.
Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.
Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana.
Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.
Baik tari kecak maupun Tari Barong yang tadi pagi kami saksikan sama-sama menjadi kegiatan rutin setiap hari. Mereka tidak pentas hanya 1 kali dalam 1 tahun, yaitu pada saat hari raya nyepi.
Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.
Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Buwana Alit (alam manusia / microcosmos) dan Buwana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.
Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan
Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.
Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "tilem sasih kesanga" (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat,mulai dari masing-masing keluarga,banjar,desa,kecamatan dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.
Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.
Puncak acara Nyepi
Keesokan harinya, yaitu pada Purnama Kedasa (bulan purnama ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktifitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa,brata,yoga dan semadhi.
Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).
Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan hari raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti diubah.
Ngembak Geni (Ngembak Api)
Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada "pinanggal ping kalih" (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari kedua. Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih. Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia diseluruh penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi satu dengan yang lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan. Hidup di dalam kerukunan dan damai.
Setelah menikmati salah satu tari paling terkenal di Bali, kami kembali ke Wisma Bima Dua Bali untuk istirahat karena besok kami harus kembali berkeliling Bali dan mempelajari kebudayaannya melalui Nusa Dua Tour. Dan sesampainya di Wisma Dua Bali kami langsung makan malam.
Seolah tidak puas dengan makan malam yang telah disediakan saya mengajak Alfredo dan Aldilah untuk makan durian yang dijual di depan Wisma. Disisi lain anak-anak takut apabila ketahuan Bu Ayu keluar dari Wisma, kami justru makan durian bersama Bu Ayu di depan kamar beliau bersama Ema, Alfi, Halvinda dan Rosdiana yang satu komplek kamar dengan beliau. Meski mereka berpendapat duriannya tidak terlalu manis, tapi menurut saya karena dimakan bersama dengan uang bersama ditambah suasana Bali malam hari membuat durian terasa nikmat.
Malam semakin larut sayapun kembali ke kamar untuk tidur. Namun, melihat anak-anak lain yang bermain kartu di kamar membuat saya tergoda untuk ikut bermain. Setelah lelah bermain kartu sambil terus tertawa, kami langsung tertidur begitu kami berbaring di atas kasur.
Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan kami lanjutkan dengan kegiatan Nusa Dua Tour. Seperti biasa saya bangun langsung mandi dan sholat Subuh. Kemudian dilanjutkan dengan sarapan pagi dan bersiap-siap mengawali hari dengan menikmati keindahan Nusa Dua.
Begitu sampai di Nusa Dua kami langsung ditawarkan menuju ke pulau penyu dengan tarif Rp 40000;. Sebenarnya saya ingin sekali pergi, namun saya lihat sebagian besar teman saya tidak pergi, hanya Ema dan Rosdiana yang pergi ke pulau penyu. Sedangkan yang tidak pergi hanya duduk dan menunggu rombongan lain yang pergi ke pulau penyu. Tak ada kegiatan lain yang bisa kami lakukan selain bermain handphone, on-line dan mendengarkan musik ataupun berjalan-jalan sekitar pantai yang berpasir lengket.
Setelah menuggu lama, akhirnya rombongan pertama yang menuju pulau penyu kembali. Sekarang hanya tinggal menunggu gelombang kedua yang belum terlihat tanda-tanda akan datang.
Setelah rombongan kedua datang kami ditawarkan untuk mencoba permainan air lain, seperti Parasailing dan banana boat. Semua perhatian tertuju ke Bu Ayu saat beliau mencoba menaiki parasailing. Semua anak langsung menyiapkan kamera untuk mengabadikan guru mereka yang sedang mengudara menggunakan parasut yang ditarik menggunakan jet sky. Disusul berikutnya Rasya yang mencoba terbang menggunakan parasailing yang sama dengan Bu Ayu. Menyusul kekasihnya, Arkan turut andil meramaikan suasana dengan mengikuti jejak Rasya. Di sisi lain Chaerunisa menikmati banana boat dengan teman-temannya. Seakan tidak mau kalah dengan yang lain, Puri dan Rosdiana ikut mencoba permainan yang memerlukan nyali terhadap ketinggian itu. Suasana pecah saat Rosdiana yang memiliki badan subur terlihat jelas terbang diangkasa. Semua yang awalnya sibuk dengan telepon genggamnya mengalihkan perhatian ke atas, seolah melihat parasut mengangkat candi Borobudur.
Puas bermain kami makan siang masih di tempat yang sama untuk selanjutnya menuju ke GWK alias Garuda Wisnu Kencana. Kita dapat melihat pemandangan Pulau Dewata dari atas GWK. Di GWK juga terdapat air suci yang dipercaya dapat membuat awet muda dan mendatangkan jodoh.
Sebelum meninggalkan Garuda Wisnu Kencana kami sholat Dzuhur jamak Ashar di Mushola setempat. Perjalanan dilanjutkan dengan tujuan Pantai yang sudah terkenal di dunia karena keindahannya, yaitu Pantai Kuta. Pantai Kuta adalah sebuah tempat pariwisata yang terletak di sebelah selatan Denpasar, ibu kota Bali, Indonesia. Kuta terletak di Kabupaten Badung. Daerah ini merupakan sebuah tujuan wisata turis mancanegara, dan telah menjadi objek wisata andalan Pulau Bali sejak awal 70-an. Pantai Kuta sering pula disebut sebagai pantai matahari terbenam (sunset beach) sebagai lawan dari pantai Sanur.
Di Kuta terdapat banyak pertokoan, restoran dan tempat permandian serta menjemur diri. Selain keindahan pantainya, pantai Kuta juga menawarkan berbagai macam jenis hiburan lain misalnya bar dan restoran di sepanjang pantai menuju pantai Legian. Rosovivo, Ocean Beach Club, Kamasutra, adalah beberapa club paling ramai di sepanjang pantai Kuta.
Pantai ini juga memiliki ombak yang cukup bagus untuk olahraga selancar (surfing), terutama bagi peselancar pemula. Lapangan Udara I Gusti Ngurah Rai terletak tidak jauh dari Kuta.
Awalnya saya hanya ingin bermain di pinggiran pantai saja, agar tidak terlalu basah. Namun, tiba-tiba ombak besar datang membuat saya tidak sempat menjauh, alhasil sekujur tubuh sampai pakaian basah semua. Karena sudah terlanjur basah, tidak ada salahnya turun ke air dan melawan ombak yang datang.
Keindahan menawan yang ditawarkan pantai Kuta justru tidak dibarengi dengan fasilitas yang mendukung. Tempat bilas yang ada di Pantai Kuta sangat tidak memadai. Kita harus bilas di luar layaknya orang wudhu, bukan di sebuah ruangan tertutup. Padahal untuk bilas saja sudah dikenakan tarif Rp 2000. Belum lagi jika mau ganti baju. Kami harus mengeluarkan uang Rp1000 lagi untuk menyewa ruangannya.
Saat malam tiba saya mengajak teman-teman saya untuk makan bakso yang dijual di depan Wisma. Namun kami harus teliti dalam memilih makanan yang dijual di Bali, karena bisa saja mengandung bahan yang tidak halal. Akhirnya saya meminta bantuan Albert yang beragama non-muslim untuk memeriksa apakah bakso tersebut mengandung bahan yang tidak halal bagi kami atau tidak. Dia mengatakan bahwa bakso tersebut halal. Beberapa dari kamipun membeli bakso tersebut dan memakannya bersama-sama.
Selesai makan kami bercengkrama dengan Bu Ayu dan Madame Dani. Kami bercerita banyak hal termasuk tentang pacar. Namun sialnya, saya justru menjadi bahan hiburan setelah Madame Dani dan Bu Ayu menyebutkan bahwa Alfi kekasih saya saat itu pernah bercerita kepada Beliau bahwa dia mempunyai perasaan pada seorang laki-laki yang dikenalkan Bu Ayu di ruangannya. Mendengar cerita itu, saya bukannya curiga justru tertawa bersama anak-anak yang lain.
Pagi harinya, saya yang sedang berberes untuk menikmati tour terakhir kami yang bernama Bedugul Tour sekaligus kembali ke Jakarta, saya digoda oleh Bu Ayu yang datang dan melanjutkan ledekannya semalam dengan Madame Dani. Meski demikian reaksi saya masih sama dengan semalam, tertawa padahal saya yang menjadi bahan ledekan.
Namun, saat saya berbicara dengan Alfi seperti ada yang berbeda dengannya saat itu. Dia terlihat lebih diam dan tidak terlalu menanggapi pembicaraan saya. Dari situlah kecurigaan saya mulai. Ditambah lagi dengan teman-taman yang mengatakan bahwa Alfi pernah bercerita seperti yang diceritakan Bu Ayu dan Madame Dani. Namun, saya tetap ingin mendengarnya langsung dari mulut Alfi meskipun mulutnya tidak mau diajak bicara dan hanya berbicara melalui sms.
Dan saat itu saya mulai terpancing emosinya hingga di Pantai Sanur dan Sangeh kami tak terlihat lagi berdua.
Sangeh adalah sebuah tempat pariwisata di pulau Bali yang terletak di sebelah utara Ubud, kabupaten Gianyar.
Sangeh terkenal karena ini merupakan sebuah desa di mana monyet-monyet (beruk) berkeliaran dengan bebas tapi kadangpula ada monyet yang sangat jinak di sebuah bukit bernama Bukit Sari. Di sana ada pula sebuah pura yang bernama Pura Bukit Sari. Monyet di sini berkuasa dan konon memiliki tiga wilayah kerajaan.
Menurut legenda setempat Bukit Sari dan monyet ini berada di sana ketika Hanoman, sebuah tokoh dalam wiracarita Ramayana, mengangkat gunung Mahameru. Beberapa bagian gunung ini jatuh di sana dan sejak saat itu monyet berkuasa di sana.
Pantai Sanur adalah sebuah tempat pelancongan pariwisata yang terkenal di pulau Bali. Tempat ini letaknya adalah persis di sebelah timur kota Denpasar, ibukota Bali. Sanur berada di Kotamadya Denpasar.
Pantai Sanur terutama adalah lokasi untuk berselancar (surfing). Terutama ombak pantai Sanur sudah termasyhur di antara para wisatawan mancanegara. Tak jauh lepas Pantai Sanur terdapat juga lokasi wisata selam dan snorkeling. Oleh karena kondisinya yang ramah, lokasi selam ini dapat digunakan oleh para penyelam dari semua tingkatan keahlian.
Pantai Sanur juga dikenal sebagai Sunrise beach (pantai matahari terbit) sebagai lawan dari Pantai Kuta.
Karena lokasinya yang berada di sebelah timur pulau Bali, maka pantai Bali ini menjadi lokasi yang tepat untuk menikmati sunrise atau matahari terbit. Hal ini menjadikan tempat wisata ini makin menarik, bahkan ada sebuah ruas di pantai Sanur ini yang bernama pantai Matahari Terbit karena pemandangan saat matahari terbit sangat indah jika dilihat dari sana.
Sepanjang pantai Bali ini menjadi tempat yang pas untuk melihat matahari terbit. Apalagi sekarang sudah dibangun semacam sanderan yang berisi pondok-pondok mungil yang bisa dijadikan tempat duduk-duduk menunggu matahari terbit. Selain itu, ombak di pantai ini relatif lebih tenang sehingga sangat cocok untuk ajang rekreasi pantai anak-anak dan tidak berbahaya.
Selain itu, pengunjung bisa melihat matahari terbit dengan berenang di pantai. Sebagian kawasan pantai ini mempunyai pasir berwarna putih yang eksotis. Dilengkapi dengan pohon pelindung, pengunjung bisa duduk-duduk sambil menikmati jagung bakar ataupun lumpia yang banyak dijajakan pedagang kaki lima.
Sepanjang tempat wisata pantai Bali ini sekarang sudah dilengkapi dengan penunjang wisata berupa hotel, restoran ataupun kafe-kafe kecil serta art shop. Salah satu hotel tertua di Bali dibangun di pantai ini. Hotel ini bernama Ina Grand Bali Beach yang terletak persis di tepi pantai. Selain itu, sepanjang garis pantai juga dibangun semacam area pejalan kaki yang seringkali digunakan sebagai jalur jogging oleh wisatawan ataupun masyarakat lokal. Jalur ini terbentang ke arah selatan melewati pantai Shindu, pantai Karang hingga Semawang sehingga wisatawan bisa berolahraga sekaligus menikmati pemandangan pantai di pagi hari.
Setalah berkeliling dan melihat kera di Sangeh juga menikmati keindahan di Pantai Sanur, kami melanjutkan perjalanan ke Joger. Namun karena Joger sangat padat dan tidak ada tempat lagi untuk memarkirkan bis, kami terlebih dahulu makan siang dengan panorama indah Danau Bratan di Bedugul. Bedugul terletak di desa Batu, kecamatan Batuliti, Kabupaten Tabanan. Danau Bratan adalah danau terbesar kedua di Bali dengan luas 6756 Ha dengan kedalaman 20-25 m.
Suasana yang indah tak membuat perasaan saya tenang dengan masalah yang saya hadapi dengan Alfi. Dan disana saya mencoba menyelidiki semua petunjuk yang ada untuk memastikan bahwa semua yang dikatakan memang tidak benar dan semua ini hanya akal-akalan untuk mengetes saya.
Setelah semua selesai makan siang kami kembali ke tujuan awal kami, yaitu Joger. Joger merupakan toko yang menjual souvenir khas Bali dengan kata-kata khas pula. Dan disanalah saya menyelesaikan semua permasalahan yang saya hadapi. Saya berbicara empat mata dengan Alfi dan dugaan ternyata saya benar. Mereka diajak bekerjasama dengan Madame Dani dan Bu Ayu untuk mengerjai saya sampai nanti tiba di Jakarta. Beruntung saya yang awalnya sempat terpancing emosinya dapat kembali berpikir jernih dan menganalisis semua petunjuk yang ada layaknya seorang detektif. Hubungan saya dengan Alfi kembali seperti sediakala setelah semua masalah terpecahkan sebelum target yang diinginkan Madame Dani dan Bu Ayu tercapai.
Perjalanan kembali dilanjutkan dengan tujuan Tanah Lot. Tanah Lot adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.
Menurut legenda, pura ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa. Ia adalah Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri terhadap beliau karena para pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Ia menyanggupi dan sebelum meninggalkan Tanah Lot beliau dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura disana. Ia juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir dari legenda menyebutkan bahwa Bendesa Beraben 'akhirnya' menjadi pengikut Danghyang Nirartha.
Obyek wisata tanah lot terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Disebelah utara Pura Tanah Lot terdapat sebuah pura yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung). Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam (sunset), turis-turis biasanya ramai pada sore hari untuk melihat keindahan sunset di sini.
Di Tanah Lot terdapat ular suci yang apabila memegangnya akan mendapat jodohnya. Mendengar cerita tersebut saya sama sekali tidak percaya. Yang lebih membuat saya terbahak dalam hati adalah untuk dapat memegangnya kami harus membayar. Gratis saja saya belum tentu mau apalagi harus membayar. Dan sialnya saat saya sedang mengambil gambar teman-taman saya sebuah ombak yang cukup besar datang, alhasil dari ujung kaki hingga setengah baju saya basah kuyub. Belum lagi saat ombak kedua datang ketika saya hendak kembali ke bis karena sudah basah. Padahal setelah ini tidak ada lagi pemberhentian dan kami akan langsung menuju pelabuhan. Akhirnya saya berganti pakaian di belakang bis sebelum anak-anak datang, namun saya tidak dapat mengenakan sandal karena sandal saya ada didalam travel bag yang diletakkan di bagasi, sedangkan apabila kami berhenti di sebuah objek kami tidak akan diizinkan membuka bagasi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Akhirnya saya melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan untuk menyebrang dengan mengenakan sepatu basah yang sudah penuh dengan pasir pantai didalamnya.
Diperjalanan yang cukup lama dari Tanah Lot menuju Pelabuhan Gilimanuk membuat kami harus berhenti di Rumah Makan Madinah untuk makan malam yang saat itu rombongan pernah singgahi juga untuk makan malam.
Setelah perut terisi dan menjalankan ibadah sholat Magrib dijamak Isya kami melanjutkan perjalanan mejunu pelabuhan.
Kamipun sampai di pelabuhan Gilimanuk untuk Menyebrang ke Pelabuhan Ketapang. Menyebrang malam hari membuat kami tidak dapat menikmati suasana indah lautan, yang terlihat hanya titik-titik lampu dari jarak jauh.
Sesampainya di pelabuhan Ketapang kami melanjutkan perjalanan malam tanpa berhenti di penginapan. Beruntung saya benar-benar menyiapkan semua kondisi ini dengan meletakkan pakaian lebih untuk di pakai rangkap agar lebih hangat.
Dan pagi harinya saya terbangun di sebuah rumah makan. Saya kira kami hanya berhenti sebentar, tapi ternyata waktu yang diberikan cukup lama sehingga kami memanfaatkannya untuk mandi dan Sholat Subuh. Selesai mandi dan Sholat makanan sudah tersedia di dalam. Banyak yang memanfaatkan waktu makan sembari mengisi kekosongan battery ponsel mereka termasuk juga saya yang kehabisan di jalan.
Perjalanan kembali dilanjutkan dengan tujuan tempat peristirahatan kami Hotel Omah Koe. Dan untuk menghilangkan raut wajah yang bosan saya berinisiatif untuk maju ke depan dan memutarkan lagu dari ponsel saya lalu mendekatkannya dengan microphone, banyak anak yang membawa ponselnya kedepan untuk meminta diputarkan lagu kesukaannya. Hasilnya saya kerepotan sendiri mengatur antrean lagu lagu yang masuk layaknya sebuah radio.
Dan akhirnya setelah menempuh waktu perjalanan yang cukup lama kami akhirnya sampai di Hotel Omah Koe. Di kamar bernomor 20 saya tak hanya sendiri. Ditemani Wahlul Amri, Alfredo dan Aldilah saya beristirahat di hotel yang menurutsaya memiliki suasana yang menyenagkan itu.
Sore harinya kami diajak ke Malioboro yang sebelumnya singgah di Bakpia Djava untuk membeli oleh-oleh khas Jogjakarta sekaligus melihat pembuatan Bakpia Patok yang dibuat di dalam toko, sehingga pengunjung yang datang selain dapat berbelanja dapat meliat langsung pembuatannya sehingga lebih terjamin.Dengan membawa 2 kotak Bakpia Patok dan 2 bungkus Kripik Daun, saya keluar dari toko dan menunggu yang lainnya memuaskan selera berbelanjanya.
Setelah berbelanja makanan khas Jagjakarta di Bakpia Djava yang letaknya tak jauh dari tempat kami menginap, perjalanan kembali dilanjutkan dengan tujuan Malioboro. Kami diberitahu untuk berhati-hati karena banyak sekali tindak kejahatan disana, khusunya pencopetan. Beruntung saya menggunakan sweater dengan kantung didepan, sehingga dompet, ponsel hingga belanjaan saya dapat saya masukkan di kantong meski akan terlihat seperti ibu-ibu yang sedang menanti kelahiran anaknya. Selain itu kami juga dihimbau untuk berkelompok-kelompok jangan berkeliling sendiri. Kami juga diberikan kupon makan malam di McD, itu berarti barang siapa yang kuponnya hilang tidak dapat makan malam.
Tanpa membuang-buang waktu kami semua turun dari bis dan berhalan berkelompok-kelompok sesuai anjuran Pak Tamba untuk berbelanja disini. Bersama Alfi, Ema, Halvinda, dan Alfredo, saya memulai petualangan di Malioboro. Seperti biasa barang pertama yang saya incar adalah pakaian. Di sana ada baju yang dijual sepasang. Saya membeli satu pasang baju dengan harga Rp 30.000;. Tentu saja salah satunya saya berikan kepada Alfi. Baju saya bertuliskan “Jogja”, sedangkan baju Alfi bertuliskan “Karta” jadi jika digabungkan akan didapatkan sebuah kata “Jogjakarta” dengan gambar seorang laki-laki menaiki sepeda pada baju saya dan seorang perempuan membonceng sepeda pada baju Alfi.
Sebuah sandal batik menjadi buronan saya berikutnya. Ini karena saya belum membelikan apapun selain satu potong baju untuk Ayah saya, sedangkan saya sudah membelikan ibu saya sepotong baju dan sebuah sandal di Bali. Saat membeli sandal batik, saya melihat sebuah dompet batik yang cocok untuk Ibu saya. Tanpa piker panjang saya langsung membeli dompet batik yang cantik tersebut.
Setelah semua mendapat barang yang dicari, kami meluncur ke McD untuk mekan malam. Ternyata sudah banyak anak yang makan disana.
Puas berkeliling Malioboro dan makan malam di McD, kami kembali ke bis. Di bis saya melihat salah seorang anak Travel yang bernama Bungi sedang menangis. Ternyata dia kehilangan sebuah handphone. Saat ditanya dia mengatakan handphonenya diletakkan di kantong plastik belanjaannya. Itu hal yang sangat disesalkan oleh semua, khususnya guru yang sedah mengatakan untuk berhati-hati dengan barang bawaannya.
Saat dipenginapan Bungi masih terlihat berduka dengan kejadian yang dialaminya di Malioboro.
Pagi harinya kami berkemas untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta. Sebelum pulang kami sarapan di hotel dengan menu yang tidak biasa. Kami sarapan kanya dengan 2 potong roti tawar yang di beri meces di tengahnya dan ditemani oleh secangkir teh hangat. Tentu saja dengan menu tersebut tak membuat satupun dari kami kenyang.
Kami meninggalkan Hotel Omah Koe menuju Candi Borobudur.
Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Dalam etnis Tionghoa, candi ini disebut juga 婆羅浮屠 (Hanyu Pinyin: pó luó fú tú) dalam bahasa Mandarin.
Nama Borobudur
Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra. Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa sansekerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur.
Struktur Borobudur
Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa.
Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.
Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.
Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.
Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.
Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.
Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.
Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur Mandala. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.
Disana kami di damping oleh seorang Guide yang bernama Pak Widodo. Sosok yang sama seperti Bli Robert hanya saja tidak selucu Bli Robert.
Dan setelah berkeliling Candi Borobudur, kami melanjutkan perjalanan. Dan di tengah perjalanan para wisatawan muda diberi selembar kertas yang berisi pertanyaan berhubungan dengan tour yang sudah dijalani selama seminggu ini. Selama di bis kami semua anak sibuk membaca buku panduan untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang diberikan terkecuali anak-anak laki-laki yang duduk dibelakang. Mereka justru tidur dan ada pula yang bercanda ria dengan mendengarkan musik.
Dan saat bis berhenti di salah satu rumah makan di daerah Kebumen, kami menyempatkan menjawab soal-soal yang tadi diberikan sembari makan siang.
Begitu pula saat bis berhenti untuk istirahat di SPBU. Kami lagi-lagi menyempatkan diri untuk mengerjakan soal.
Dan saat adzan Magrib berkumandang, bis berhenti di Rumah Makan di daerah Jawa Barat, tempat kami berhenti pertama kali dalam tour ini. Waktu makan malam kembali diselingi dengan kegiatan isi jawaban oleh para siswa karena setelah ini hawaban harus dikumpulkan. Dan setelah semua selesai makan sekaligus menulis jawabannya, perjalanan kembali dilajutkan.
Perjalanan sempat terhenti karena kemacetan panjang saat melewati jalan yang berkelok-kelok yang sepertinya masih di daerah Jawa Barat. Dan ternyata ada Truk yang terguling sehingga jalan menjadi tersendat. Begitu lamanya kami berhenti karena macet membuat saya tertidur.
Dan saat terbangun, kami sudah berada di jalan tol yang sepertinya sudah mendekati tujuan kita, SMK Cipta Karya 2 untuk kembali kerumah masing-masing. Sebelum kami sampai di tujuan, kami diberitahu 2 wisatawan faforit. Dan taman saya wahlul dipilih menjadi salah satunya karena keluguannya saat tour yang disaksikan oleh Madame Dani dan membuat beliau tertawa saat Wahlul merusak lagu Armada yang berjudul “Cinta Itu Buta” menjadi tidak enak didengar.
Selain itu kami juga mengucapkan terima kasih kepada para supir yang selam 8 hari mengantar kami berwisata dengan selamat hingga kembali ke Jakarta.
Begitu saya sampai di depan Jalan Pupan sudah banyak orang tua yang menjemput anaknya meskipun jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Namun, saya menolak untuk dijemput karena akan merepotkan orang tua saya yang besok masih harus kembali bergulat di tempat kerjanya. Sapardi pun demikian, dia tidak dapat pulang karena sudah tidak ada kendaraan dan dia tidak dijemput. Akhirnya dia menginap dirumah Angga yang tak jauh dari sekolah kami.
Saya akhirnya pulang dengan menggunakan taksi karena ingin segera merasakan kasur dan bantal yang sudah saya tinggal selam 8 hari. Namun, ada hal yang menyebalkan selama saya menaiki taksi. Supir taksi yang masih muda tidak bisa diam dan selalu menanyai saya seperti seorang wartawan. Padahal saya sudah sangat lelah. Namun, saya tahu bahwa supir taksi itu niatnya baik, hanya ingin dekat denga para penumpangnya.
Dan begitu saya sampai di rumah saya langsung disambut layaknya seorang anak yang lama tidak pulang karena merantau.
Sepulang dari Bali saya justru sering sedih apabila kesepian. Karena selama 8 hari saya selalu bersama teman-taman, selalu beraktifitas bersama, susah dan senang bersama.
Banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari perjalanan Java Bali Overland Tour ini. Dari mulai kebersamaan yang saya rasakan hingga mangatur waktu dalam setiap kegiatan. Sungguh pengalaman yang tak akan pernah dapat terlupakan.
Beberapa hal yang selalu saya ingat adalah tidur di penginapan yang sangat menyenangkan bersama teman-teman, bercanda di bis, makan dan sholat bersama-sama. Dan yang paling saya ingat adalah sosok Bli Robert yang menemani kami selama Tour. Sosok yang pintar, lucu, dan selalu membuat warna di setiap suasana jenuh yang kami alami diperjalanan.
Dan inilah akhir dari Cerita Perjalanan Java Bali Overland Tour. Sebuah perjalanan yang penuh dengan pengalaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar